Merdeka Dalam Ketidakmerdekaan

Di tengah gegap gempita dan kemeriahan ulang tahun ke – 80 negeri ini dan kibaran bendera di seluruh penjuru negeri, sebuah pertanyaan berbisik kencang dalam nurani ini : “apakah kita sudah benar- benar merdeka?”

Mencapai kemerdekaan absolut agaknya memang absurd dan sebuah utopia. Merdeka yang secara umum didefenisikan sebagai bebas dari suatu penjajahan apapun. Namun, Bapak pemdiri bangsa Soekarno pernah menyatakan 5 pilar penting sebagai tolok ukur kemerdekaan itu sendiri: 

  1. Kemerdekaan Fisik; bebas dari cengkeraman asing. 
  2. Kemerdekaan jiwa ; bebas dari rasa takut, dan keadaan mental yang melumpuhkan. 
  3. Kedaulatan penuh ; hak untuk menentukan nasib sendiri sebagai bangsa
  4. Kesejahteraan Sosial ; terwujudnya keadilan sosial, kesejahteraan , pendidikan dan kesehatan yang merata. 
  5. Persatuan dan Kesatuan ; kemerdekaan yang dirajut oleh segenap anak bangsa, melampaui perbedaan apapun. 

 

Mari kita bertafakkur sejenak. Jika kita melihat dengan kejujuran bathin, ke lima pilar tersebut belumlah tegak berdiri. Di dalam relung kesenyapan jiwa kita justru melihat dan merasa kemerosotan tengah terjadi. Dan acap kita sering berpikir skeptis, bagaimana jika ia akan merosot semakin tajam dan jauh? Terhubungnya semua kita dalam gema dunia maya, tak mampu lagi menutupi kalau negeri ini sedang tidak baik- baik saja, meski sekeras apapun upaya membungkusnya dengan berbagai balutan dialektika dan angka statistik. 

Lalu apakah kita harus terus meratap?

Menjadi apatis? Atau kabur aja dulu ke luar negeri? 

Kemerdekaan di Ambang Maut.

Sejarah telah memberikan jawaban ekstrem tentang suatu kemerdekaan. Ketika semua hal direnggut dari seorang manusia—keluarga, harta, bahkan nama—satu-satunya yang tersisa adalah benteng terakhir: kemerdekaan untuk berpikir dan memilih respon.

Dr. Viktor Frankl pernah membuktikannya di tempat paling biadab di muka bumi: kamp konsentrasi Nazi. Selama tiga tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang akrab tungku pembakaran, di mana setiap detik adalah pertaruhan antara hidup dan menjadi abu. Dalam bukunya yang melegenda, Man’s Search for Meaning, Frankl menunjukkan bahwa bahkan di tengah malapetaka neraka dunia, manusia bisa menemukan makna dan kebebasan internalnya. Di sana ia mengembangkan Logoterapi, sebuah keyakinan bahwa pencarian makna dalam penderitaan adalah cara untuk tetap waras dan merdeka.

Terdengar begitu renyah dan mudah di atas kertas, ya? Sampai ujian itu datang dalam wujudnya yang nyata dan mulai mempermainkan kewarasan kita. Sering saya bertanya dalam diri ini : ” jika berada di posisi Viktor Frankl, atau peristiwa semacam nya mampukah hati ini seberani dan setabah itu?”

Jiwa Yang Terpasung

Kisah Frankl menjadi cermin kontras bagi kita. Berapa banyak dari manusia yang secara fisik bebas, namun jiwanya terpenjara dalam situasi yang tampak normal dan bahagia?

​Kita terbelenggu oleh rasa takut mengutarakan pendapat hanya untuk menghindari kritik. Kita terus berkompromi dengan nurani demi mengamankan jabatan dan posisi. Kita menggadaikan idealisme untuk memuaskan kerakusan yang tak pernah usai dan berkesudahan. Kita menjadi “anak manis” yang patuh demi fasilitas, meski batin terus memberontak. Mau sampai kapan?

Jiwa yang tak kasat mata ini adalah master mind bagi raga yang nyata. Ia sering menjadi dalang dari sakitnya raga. Psikiater Dr. David Hawkins dalam bukunya Letting Go mengisahkan bagaimana lebih dari tiga puluh penyakit kronis yang dideritanya lenyap begitu saja ketika ia berhasil memerdekakan jiwanya dari beban emosi negatif.

​Jiwa yang merdeka adalah juga kemampuan berpikir jernih dan kritis. Ia adalah keberanian untuk bersikap sesuai keyakinan dan bertanggung jawab atasnya. Ia adalah empati yang tulus pada sesama, yang melahirkan ketenangan batin.

Sebuah refleksi kritis kemudian muncul: Akankah jiwa yang benar-benar merdeka tega melakukan korupsi triliunan uang rakyat? Akankah ia terlibat dalam persekongkolan jahat yang menghancurkan aturan demi segelintir elite dan kepentingan? Akankah batinnya tenang melihat hukum sering dipermainkan? Akankah para elite itu hidup bermewah-mewah dan hedon, sementara rakyat jelata tak tahu besok apakah masih bisa makan?

Menjejakkan Kemerdekaan di Bumi Bhinneka Tunggal Ika

Kembali ke lima pilar kemerdekaan Bung Karno, kita lantas melihat potret buram di negeri ini. Ketidakadilan bagi rakyat kecil, sulitnya lapangan kerja, kemiskinan yang mencekik, dan pendidikan yang carut-marut adalah bukti bahwa kemerdekaan seutuhnya masih jauh dari genggaman.

​Kemerdekaan terasa seperti hak istimewa bagi segelintir orang: mereka yang punya koneksi, mereka yang mewarisi nama besar para pahlawan atau ayah ibunya pernah menjadi penguasa negeri. Seakan nasib baik telah dipetakan sejak lahir, padahal kita tak pernah bisa memilih untuk terlahir dari siapa.

Namun, keluh kesah tak akan pernah menyelesaikan masalah. Janji manis politisi takkan mampu menghentikan tangis anak-anak yang kehabisan susu karena ayahnya kehilangan pekerjaan.

​Kita memang bukan Soekarno yang gelegar orasinya mampu menggetarkan dunia. Kita juga bukan Viktor Frankl yang sanggup berdiri tegak di kamp penyiksaan.

​Tetapi, kita adalah anak-anak zaman. Titisan dari berbagai jiwa pemberani yang mewarisi api perjuangan. Titisan dari berbagai jiwa penuh kelembutan yang tak ingin menindas sesama makhluk Tuhan. Tugas kita adalah menjaga agar kobaran nyala api itu tidak padam. Tugas kita adalah terus bersuara meski tak didengar, atau bahkan dibungkam.

Tugas kita hari ini adalah berjuang untuk tetap bisa merdeka, meski di dalam ketidakmerdekaan.